
“Arita, kamu dimana?” tanyaku padanya melalui telepon. “di
Kampus” jawabnya seadanya. sakit mendengar dia menjawab seperti itu, namun ku
jawab dengan senyuman yang menyungging di bibirku. “hem.. apa kau sudah makan?.
Aku ingin mengajakmu makan siang ini, di restoran tempat kita biasa makan. Kau
mau ?” tanyaku penuh antusias, berharap ia mengiakannya. “tidak. Aku sedang
sibuk. Sudah dulu ya”. Jawabnya.langsung memutuskan hubungan telepon. Aku hanya
bisa menghela napas panjang melihat kelakuaannya. Kenapa kau selalu seperti ini ? apa terlalu sulit untuk mengatakan iya.
Kau tahu aku tak bisa menghabiskan banyak waktuku untukmu. “Dave ayo!
Acaranya akan di mulai”. Suara Eric membuyarkan lamunanku.”Ok! gue kesana”.
Kataku sambil melihat penampilanku di kaca dan segera bergegas ke atas
panggung.
Ini dia my the other world!I. Aku
Dave Stefanius. Salah satu penyanyi yang
ada di Indonesia. Bisa di bilang aku cukup terkenal. Aku tidak sombong, karena
aku punya bukti atas semua ucapanku. Pertamu albumku terjual melebihi prediksi,
aku mendapat sambut baik dari fans indonesia, 2 bulan setelah aku mengeluarkan
album aku melakukan tour ke beberapa kota di seluruh Indonesia. Oh iya! Aku
lupa mengatakan Eric adalah manajerku. Ia manajer dan temanku sejak kecil. Ini hebat,bukan ?.
Namun... “Dave! Dave!”. Teriak Eric. Aku hanya seperti orang bodoh melihatnya.
“Hey,apa yang kau pikirkan? Kalau kau seperti ini pasti ada hubungannya dengan Arita”.
Tebak Eric sok tahu, namun tebakannya memang benar “Iya. Good answer”. Kataku
mengakui. “Loe ga bosan apa mikirin dia
tiap hari, dia juga belum tentu mikirin elo”. Kata Eric geram dan muak dengan
masalah yang sama setiap hari. Aku hanya diam. Tak berkutik. Pikiranku masih
pada Arita.Perempuan yang kukenal dalam 10 tahun hidupku, sejak aku berumur 14
tahun, aku mengenalnya semenjak dia pindah ke sekolahku. Pertama kali aku
melihatnya aku langsung menyukainya. Matanya yang bulat,hitam memancarkan
pesona ketulusannya,cara di berbicara,tersenyum. Sangat manis. Mataku selalu
mengikutinya sampai ia duduk disebelahku. Aku tak berhenti memandangnya. Ia
terlihat kikuk karena terlalu ku perhatikan. Bila ku ingat kejadian ini aku
sangat malu. Namun itu adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidupku
karena bisa bertemu dengannya. Apakah ini rencanamu Tuhan pikirku saat itu.
“Dave! Come on”. Kata Eric. “OK”.
Jawabku seadanya karena sekali lagi dia membuyarkan lamunanku. Arrrgh!.
-Kantor Manajemen-
“Hai Eric! Apa kabar?”. Salam hangat pak Handono selaku produser dan ketua
manajemen tempatku bekerja.”baik pak. Bagaimana dengan bapak?”. Tanyaku
basa-basi. “seperti yang kamu lihat semakin tua dan tetap tampan”. Candanya dan
membuat gelak tawa di seluruh ruangan. “Sebenarnya, saya ingin kamu membuat
album kedua secepatnya. Karena melihat atensi masyarakat Indonesia terhadap
kamu. Bagaimana menurut kamu ?”. tanya pak Handono langsung dan membuat semua
orang yang disitu terkejut. Termasuk aku pastinya. “Tapi... pak.. ini terlalu
cepat saya baru..”,kataku bingung. Saya tahu, tapi akan lebih baik bila kita
tepa mendulang popoularitas kamu, sehingga kamu lebih dikenal”. Jelas pak
Handono. Aku berpikir keras dan melihat Eric managerku dan semau orang yang ada
di ruangan itu. Namun tak ada yang bisa memberiku kepastian. “Bagaimana Dave?”.
Tanyanya lagi. “Begini pak, Dave baru melakukan turnya dan dia sekarang masih
punya acara-acara lain”. Jelas Eric membantuku. Terimakasih erik. “Ya saya
tahu. Saya tidak meminta dave membuat albumnya
sekarang, tapi setidaknya dalam 2 atau 3 bulan ini, bagaimana?”. Jelas
pak Handono. Eric tak bisa berkutik.
“Baik pak. Saya akan melakukannya”. Jawabku mantap. Semua terkejut
termasuk Eric yang dengan matanya seakan ingin membunuhku. Hanya pak Handoko
yang tersenyum. Oo! Aku dalam masalah besar.
To be continued