Minggu, 17 Agustus 2014

Anak itu

setiap kata atau omongan yang terlintas dari orang tua adalah doa. 

Apakah ada Seorang ibu yang membenci anaknya?
Anak kandungnya sendiri, yang ia lahirkan dari rahimnya.
namun entalah.

setiap kata yang keluar dari mulutnya bukan sesuatu yang menyemangati
namun selalu semakin membuat rendah diri dan tidak percaya diri
tak pernah ada satu kata pujian tulus yang keluar

sebegitu enggannyakah mengatakan pujian tulus itu
atau memang tak ada yang dapat dipuji dari anak itu.
begitu buruknyakah ia sampai tak ada kata manis yang keluar
dari bibir indah perempuan itu. anak itu memanggilnya dengan sebutan mama.

tatapan mata,gerak tubuh,kata-kata, seakan menolak keberadaan anak itu
bahkan ketika ibu itu tertawa pun, itu hanya karena kesenangannya dalam
mendaptkan titik lemah si anak tersebut.

sekarang aku menjadi sedih melihat anak itu
wajah manisnya menjadi berubah.
tak ada senyum indah lagi yang menghiasi wajahnya.

aku harap di kemudian hari aku akan menjadi sahabat
sekaligus ibu yang baik untuk anak-anakku kelak.

aku beranjak pergi dari taman ini setelah hampir 3 jam aku melihat inu itu menggugurkan senyum indah anaknya di depan banyak orang yang sedang bahagia merayakan ulang tahun teman anaknya itu. ia tak pernah lagi tersenyum. hanya diam. miris aku melihatnya.

Kamis, 14 Agustus 2014

Because happy is heart itself

Bahgia. Seseorang pernah berkata padaku kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika hati kita merasa aman dan tenang. Tidak ada yang ditakutkan ataupun ditunggu. Semuanya sudah sempurna. Meskipun harta banyak dan semua kebutuhan jasmani terpenuhi dengan adanya harta tersebut. Tidak ada gunanya. Ketika hati manusia tersebut tidak dipenuhi dengan kebahagiaan dengan adanya harta yang ia miliki. Memang harta juga penting. Namun di atas segalanya ketenangan dan kebahagiaan hatilah yang paling penting diatas segalanya. Sepertinya Tuhan memang suka sekali menguji umatNya yang tidak taat kepadaNya. Memang tidak kaya,tidak juga miskin. Berkecukupan. Thank you God. Tapi dia merasa bahwa ini adalah perjalanan hidupnya yang begitu kelam. Kenapa dia berani berkata begitu ?. we have to ask him bout it. Dan jawabannya yang dia berikan adalah seiring berjalannya waktu, hidupnya seakan menginginkan dia menderita. Sejak dia lahir katanya, lahir dengan prematur dan mungkin saja hampir mati karena beratnya tidak lebih dari 1,5 kg. Gila memang. Apa ada bayi yang bisa hidup sekecil itu. Dengan berkat Tuhan. Tanpa tahu Tujuan Tuhan apa dalam hidupnya. Ia diberikan Tuhan anugerah untuk menghirup udara di dunia ini. Menangis sekencang-kencangnya. Dibantu dengan sinar lampu di datas tempat tidurnya. (seperti inkubator) mengingat dia lahir sangat kecil. Tumbuh,besar dan sekarang telah menjadi laki-laki menuju dewasa karena dia baru saja menyelesaikan studinya sebagai murid sekolah  menengah atas dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Semakin ia tumbuh semakin besar juga beban yang ia rasakan. Bukan! Bukan beban sebagai mahasiswa atau tentang masa depannya. Namun beban setelah ia sampai di rumah setelah beberapa bulan ia tak kembali ke rumah. Ia hanya ingin bertemu keluarganya tidak lebih dan tidak kurang. Itu saja. Dengan berada di rumah, dia pikir dia akan bisa menghilangkan segala kepenatan yang ia punya ketika tidak bersama keluarganya. Namun,nyatanya tidak. Suara bising,teriakan,amarah,tidak ada saling menghargai dan menghormati satu sama lain, baik antara orang tua dan anak atau kakak beradik. Dia marah. Dia tidak tahu marah pada siapa ? yang jelas semuanya kacau. Setiap orang di rumah itu membaw emosinya masing-masing. Ketika dikantor,disekolah atau dimanapun mereka berada sedang mengalami stress karena aktivitas mereka masing masing, mereka membawanya ke rumah. Mereka meluapkannya di rumah. Memarahi semua orang. Seakan hati orang yang dia marahi terbuat dari batu atau benda mati lainnya yang tidak memiliki perasaan atau sakit hati.
Diam. Marah. Tanpa terasa dengan memikirkan dan menceritakan ini semua. Dia menangis. Tidak bersuara. Hanya saja air mata itu keluar dari pelupuk mata. Satu persatu keluar dan semua kenangan buruk di rumah itu terulang kembali di kepalanya.  Biarkanlah hanya diamku ini yang kuandalkan. Rasanya tak ada lagi yang bisa kuperbuat. Aku merasa kacau dan hancur sekarang.  Katanya mengakhiri cerita ini.