Senin, 02 Desember 2013

Jangan Kasihani Aku

Atlet Taekwondo. Bisa dibilang aku adalah seorang atlet taekwondo. Meskipun sekarang ini aku masih mencapai tingkat provinsi dan belum sampai ke tingkat nasional yang menjadi impian terbesarku setelah semua usaha yang kulakukan untuk mencapai pada tahap ini. Aku Nadine pricilia. Seorang anak SLTP sebuah desa di provinsi Sumatera Utara, hidup sebagai gadis biasa yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan ingin mencoba banyak hal dalam hidup ini. Mungkin karena darah mudaku masih bergjolak dan ingin terus menjadi yang terbaik. Aku lahir dari orang tua yang sangat menyayangiku dan memiliki adik perempuan bernama Amira. Kami berdua sering sekali bertengkar namun aku sangat menyayanginya. Aku tak tahu kenapa aku tak dapat mengungkapkan kasih sayangku di depannya. Aku sangat bahagia. Jujur aku sangat bahagia. Aku sangat berharap kebahagian ini tidak akan pernah sirna.
            Namun,Tuhan berkehendak lain. Satu persatu masalah dalam keluargaku berdatangan tanpa henti dan menyebabkan aku semakin depresi dan tak sanggup untuk melaluinya. Nenek. Sosok wanita tua yang merupakan ibu dari mama yang menjadi penyemangatku. Semua ini bermula dari aku. Aku bertanding Taekwondo di Medan,Sumatera Utara untuk mendapatkan gelar juara dan menjadi atlet nasional mewakili provinsiku. Aku sangat bersemangat dan sangat yakin akan menang saat itu juga. Aku menyiapkan langkahku dan melakukan aba-aba wasit sebelum memulai pertandingan. Ketika aba-aba telah diberikan,aku langsung memulai sikap kuda-kudaku. Beberapa lawan langsung kutaklukan dan membuatku masuk di final 4 besar. Giliranku pertama. Aku melawan atlet taekwondo dari Aceh. Aku menghajarnya dan melakukan tendangan khas taekwondo yaitu :      namun,tiba-tiba aku merasa tubuhku tidak seimbang dan akhirnya aku terhuyung jatuh menghantam lantai pertandingan dan membuat bokong serta punggungku yang pertama menjamah lantai. Sangat sakit. Tapi aku tetap melanjutkan pertandingan dan dengan berakhir kekalahan padaku. Aku menangis karena kalah sampai tidak memikirkan rasa sakit pada bokong dan punggungku. Beberapa bulan setelah pertandingan tiba-tiba kakiku tidak bisa digerakkan dan semua tubuhku terasa sakit. Aku menangis memanggil mamaku. Mama heran melihatku dan segera membawaku ke rumah sakit. Aku menangis sekuat-kuatnya sampai tenggorokanku sakit setelah mendapati bahwa aku cacat karena pembuluh di tulang belakangku terhimpt sehingga mengakibatkan kelumpuhan. Aku dibawa ke rumah sakit lain,di kota lain bahakan sampai ke luar negeri namun hasilnya tetap sama. Jadilah aku orang cacat. Belum lagi penyakit kanker rahim mama yang menyebabkan mama harus di kemoterapi sampai akhirnya Tuhan memanggil mamaku dan itu adalah sakit yang luar biasa bagiku dan sampai saat ini nafasku sering sesak memikirkannya. Tak ada lagi yang merawatku an mengasihiku. Papa adalah seorang kepala polisi sehingga dia tidak bisa terus menemaniku. Akhirnya nenek yang merawatku dan menjagaku. Beberapa lama nenek merwatku papa kasihan pada nenek yang merawatku yang tidak bisa melakukan apapun kecuali duduk di kursi roda. Akhirnya papa menirimku ke sekolah luar biasa. Aku berada disana selama 1 tahun dan disana jugalah tiba-tiba aku mulai tidak bisa mendengar dan kakiku semakin lama mengecil seperti anak kecil. Kurus. Penglihatan mataku pun tak jelas lagi. Aku semakin terpuruk, aku sering menangis dan meratapi hidupku. Namun semangatku kembali hidup lagi ketika mama sering berkata “ada Tuhan yang akan selalu peduli denganmu dan menemanimu dalam keadaan apapun juga”. Akhirnya aku berdoa dan hatiku sedikit tenang. Selama aku bersekolah di SLB aku hanya pulang pada pertengahan semester dan akhir tahun. Namun aku tidak melihat adik perempuanku Amira. Kedua kali aku pulang hasilnya tetap sama. Akhirnya ku ketahui penyebabnya. Amira mengidap kanker mata yang menyebabkan matanya membesar sebelah. Memang dalam gen keluarga kami sudah ada kanker dari mama. Mungkin karena itulah penyakit ini mulai menggerogoti kmi sekarang. Sakit memang mengetahuinya. Namn aku tetap bangga memiliki ibu seperti dia. Aku menyayangimu mama. Selalu.
            Papa yang sudah menduda selama beberapa tahun ternyata juga merasakan kesepian. Dengan hati-hati papa meminta ijin kepada kami berdua untuk menikah lagi. Ini terjadi saat makan malam. “Nadine,Amira papa hanya ingin kalian tahu bahwa papa sangat menyayangi kalian berdua. Tapi papa juga butuh sosok seorang ibu untuk merawat kalian dan papa”. Papa menunduk setelah melihat ekspresi kami berdua yang tidak setuju. Aku dan Amira tidak berbicara dengan papa semiggu lebih. Nenek yang tinggal bersama kami meyakinkan kami dan memberikan penjelasan pada kami berdua untuk mengijinkan papa menikah lagi. Nenek adalah sosok ibu untuk kami berdua sekarang ini dan menjadi salah bagiku bila tidak menurutinya. Akhirnya papa menikah. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Karena dia sering menghinaku dan membanggakan anaknya yang telah lahir dan tidak cacat di depanku. Puncak kemarahanku terjadi ketika suatu kali sewaktu aku pulang sekolah SMA (aku masuk sekolah biasa lagi setelah dari SLB). Aku mendapat juara 3 di sekolah dia menghinaku dan juga mama “sudahlah,mau kamu juara 3 atau juara umum kamu tetap saja cacat dan penyakitan sama seperti mamamu”. Aku marah dan memutuskan untuk pergi karena papa juga sudah semakin sering membelanya. Rumah nenek yang aku tuju. Hanya dia keluargaku yang paling dekat denganku. Amira ikut menyusulku juga.

            Aku tidak membenci papaku. Aku hanya membenci wanita itu yang memisahkanku dari papaku dengan bayi laki-lakinya itu. Papa tetap membiayai kami. Ini adalah kewajiban seorang paap kata beliau. Aku memasuki bangku perkuliahan di umurku yang ke 21 tahun. Memang sudah tua namun aku tetap ingin mrasakan bangku perkuliahan dan dianggap normal. Aku masuk universitas negeri di sumatera utara dan Amira di universitas swasta. Aku mengambil jurusan ilmu politik dan amira hukum. Hari pertama aku masuk. Aku langsung melihat orang-orang melihatku. Ada yang merasa kasihan dan memandang sinis. Pergerakanku selama di perkuliahan agak sulit karena kursi roda ini. Namun ada satu anak perempuan yang selalu membantuku,Ira namanya. Ia membantuku naik ke atas dengan meminta bantuan teman-teman lain agar mengangkatku ke atas dan juga dia membantuku mencari becak langganan sebagai alat transportasiku untuk pulang. Karena pendengaranku yang kurang baik ia bersedia menjelaskan kembali padaku pelajaran yang ada. Tapi teman-teman ira mulai merasa risih denganku. Ini terlihat dari mata mereka yang sinis dan aku pernah memergoki sekali dan berkata mereka tidak menyukaiku dan menyuruh ira untuk menjauhiku. Namun ira tetap saja menemaniku. Aku terharu sekali. Aku menangis. Aku memeluknya dan mengucapkan terima kasih. Apalagi yang bisa ku perbuat di dunia ini selain berharap. Bermimpi dan berserah diri pada Tuhan. Aku akan meneruskan hidupku sampai waktuku tiba. Ira terima kasih karena telah menyangiku selama ini. Aku akan berjuang dan semangat dalam menjalani hidupku. Nenek,Amira,papa terima kasih karena selalu menganggapku normal dan tak mengasihiniku seperti yang orang lain lakukan. Aku menceritakan ini kembali kepada kalian teman-teman agar kalian tidak merasa hidup ini sulit dan sangat berat. Masa-masa sulit akan terlewati ketika kita menjalaninya. Aku buktinya. Nadine Pricilia anak cacat dengan kaki lumpuh yang berkuliah dan memiliki mimpi besar terhadap negeri ini agar semakin maju lagi. Itu alasanku masuk ke jurusan ilmu politik dan juga agar menjadi pejabat pemerintahan yang peduli akan rakyat. Untuk hal cinta,aku juga memiliki laki-laki yang kusuka namun aku akan menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Aku tahu Tuhan memiliki rencana yang sangat indah dalam hidupku. Semuanya akan indah pada waaktunya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar