Atlet
Taekwondo. Bisa dibilang aku adalah seorang atlet taekwondo. Meskipun sekarang
ini aku masih mencapai tingkat provinsi dan belum sampai ke tingkat nasional
yang menjadi impian terbesarku setelah semua usaha yang kulakukan untuk
mencapai pada tahap ini. Aku Nadine pricilia. Seorang anak SLTP sebuah desa di
provinsi Sumatera Utara, hidup sebagai gadis biasa yang mempunyai rasa ingin
tahu yang besar dan ingin mencoba banyak hal dalam hidup ini. Mungkin karena
darah mudaku masih bergjolak dan ingin terus menjadi yang terbaik. Aku lahir
dari orang tua yang sangat menyayangiku dan memiliki adik perempuan bernama
Amira. Kami berdua sering sekali bertengkar namun aku sangat menyayanginya. Aku
tak tahu kenapa aku tak dapat mengungkapkan kasih sayangku di depannya. Aku
sangat bahagia. Jujur aku sangat bahagia. Aku sangat berharap kebahagian ini
tidak akan pernah sirna.
Namun,Tuhan berkehendak lain. Satu
persatu masalah dalam keluargaku berdatangan tanpa henti dan menyebabkan aku
semakin depresi dan tak sanggup untuk melaluinya. Nenek. Sosok wanita tua yang
merupakan ibu dari mama yang menjadi penyemangatku. Semua ini bermula dari aku.
Aku bertanding Taekwondo di Medan,Sumatera Utara untuk mendapatkan gelar juara
dan menjadi atlet nasional mewakili provinsiku. Aku sangat bersemangat dan
sangat yakin akan menang saat itu juga. Aku menyiapkan langkahku dan melakukan
aba-aba wasit sebelum memulai pertandingan. Ketika aba-aba telah diberikan,aku
langsung memulai sikap kuda-kudaku. Beberapa lawan langsung kutaklukan dan
membuatku masuk di final 4 besar. Giliranku pertama. Aku melawan atlet
taekwondo dari Aceh. Aku menghajarnya dan melakukan tendangan khas taekwondo
yaitu : namun,tiba-tiba aku merasa
tubuhku tidak seimbang dan akhirnya aku terhuyung jatuh menghantam lantai
pertandingan dan membuat bokong serta punggungku yang pertama menjamah lantai.
Sangat sakit. Tapi aku tetap melanjutkan pertandingan dan dengan berakhir
kekalahan padaku. Aku menangis karena kalah sampai tidak memikirkan rasa sakit
pada bokong dan punggungku. Beberapa bulan setelah pertandingan tiba-tiba
kakiku tidak bisa digerakkan dan semua tubuhku terasa sakit. Aku menangis
memanggil mamaku. Mama heran melihatku dan segera membawaku ke rumah sakit. Aku
menangis sekuat-kuatnya sampai tenggorokanku sakit setelah mendapati bahwa aku
cacat karena pembuluh di tulang belakangku terhimpt sehingga mengakibatkan
kelumpuhan. Aku dibawa ke rumah sakit lain,di kota lain bahakan sampai ke luar
negeri namun hasilnya tetap sama. Jadilah aku orang cacat. Belum lagi penyakit
kanker rahim mama yang menyebabkan mama harus di kemoterapi sampai akhirnya
Tuhan memanggil mamaku dan itu adalah sakit yang luar biasa bagiku dan sampai
saat ini nafasku sering sesak memikirkannya. Tak ada lagi yang merawatku an
mengasihiku. Papa adalah seorang kepala polisi sehingga dia tidak bisa terus
menemaniku. Akhirnya nenek yang merawatku dan menjagaku. Beberapa lama nenek
merwatku papa kasihan pada nenek yang merawatku yang tidak bisa melakukan
apapun kecuali duduk di kursi roda. Akhirnya papa menirimku ke sekolah luar
biasa. Aku berada disana selama 1 tahun dan disana jugalah tiba-tiba aku mulai
tidak bisa mendengar dan kakiku semakin lama mengecil seperti anak kecil.
Kurus. Penglihatan mataku pun tak jelas lagi. Aku semakin terpuruk, aku sering
menangis dan meratapi hidupku. Namun semangatku kembali hidup lagi ketika mama
sering berkata “ada Tuhan yang akan selalu peduli denganmu dan menemanimu dalam
keadaan apapun juga”. Akhirnya aku berdoa dan hatiku sedikit tenang. Selama aku
bersekolah di SLB aku hanya pulang pada pertengahan semester dan akhir tahun.
Namun aku tidak melihat adik perempuanku Amira. Kedua kali aku pulang hasilnya
tetap sama. Akhirnya ku ketahui penyebabnya. Amira mengidap kanker mata yang
menyebabkan matanya membesar sebelah. Memang dalam gen keluarga kami sudah ada
kanker dari mama. Mungkin karena itulah penyakit ini mulai menggerogoti kmi
sekarang. Sakit memang mengetahuinya. Namn aku tetap bangga memiliki ibu
seperti dia. Aku menyayangimu mama. Selalu.
Papa yang sudah menduda selama
beberapa tahun ternyata juga merasakan kesepian. Dengan hati-hati papa meminta
ijin kepada kami berdua untuk menikah lagi. Ini terjadi saat makan malam.
“Nadine,Amira papa hanya ingin kalian tahu bahwa papa sangat menyayangi kalian
berdua. Tapi papa juga butuh sosok seorang ibu untuk merawat kalian dan papa”.
Papa menunduk setelah melihat ekspresi kami berdua yang tidak setuju. Aku dan
Amira tidak berbicara dengan papa semiggu lebih. Nenek yang tinggal bersama
kami meyakinkan kami dan memberikan penjelasan pada kami berdua untuk
mengijinkan papa menikah lagi. Nenek adalah sosok ibu untuk kami berdua
sekarang ini dan menjadi salah bagiku bila tidak menurutinya. Akhirnya papa
menikah. Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Karena dia sering
menghinaku dan membanggakan anaknya yang telah lahir dan tidak cacat di
depanku. Puncak kemarahanku terjadi ketika suatu kali sewaktu aku pulang
sekolah SMA (aku masuk sekolah biasa lagi setelah dari SLB). Aku mendapat juara
3 di sekolah dia menghinaku dan juga mama “sudahlah,mau kamu juara 3 atau juara
umum kamu tetap saja cacat dan penyakitan sama seperti mamamu”. Aku marah dan
memutuskan untuk pergi karena papa juga sudah semakin sering membelanya. Rumah
nenek yang aku tuju. Hanya dia keluargaku yang paling dekat denganku. Amira
ikut menyusulku juga.
Aku tidak membenci papaku. Aku hanya
membenci wanita itu yang memisahkanku dari papaku dengan bayi laki-lakinya itu.
Papa tetap membiayai kami. Ini adalah kewajiban seorang paap kata beliau. Aku
memasuki bangku perkuliahan di umurku yang ke 21 tahun. Memang sudah tua namun
aku tetap ingin mrasakan bangku perkuliahan dan dianggap normal. Aku masuk
universitas negeri di sumatera utara dan Amira di universitas swasta. Aku
mengambil jurusan ilmu politik dan amira hukum. Hari pertama aku masuk. Aku
langsung melihat orang-orang melihatku. Ada yang merasa kasihan dan memandang
sinis. Pergerakanku selama di perkuliahan agak sulit karena kursi roda ini.
Namun ada satu anak perempuan yang selalu membantuku,Ira namanya. Ia membantuku
naik ke atas dengan meminta bantuan teman-teman lain agar mengangkatku ke atas
dan juga dia membantuku mencari becak langganan sebagai alat transportasiku
untuk pulang. Karena pendengaranku yang kurang baik ia bersedia menjelaskan kembali
padaku pelajaran yang ada. Tapi teman-teman ira mulai merasa risih denganku.
Ini terlihat dari mata mereka yang sinis dan aku pernah memergoki sekali dan
berkata mereka tidak menyukaiku dan menyuruh ira untuk menjauhiku. Namun ira
tetap saja menemaniku. Aku terharu sekali. Aku menangis. Aku memeluknya dan
mengucapkan terima kasih. Apalagi yang bisa ku perbuat di dunia ini selain
berharap. Bermimpi dan berserah diri pada Tuhan. Aku akan meneruskan hidupku
sampai waktuku tiba. Ira terima kasih karena telah menyangiku selama ini. Aku
akan berjuang dan semangat dalam menjalani hidupku. Nenek,Amira,papa terima
kasih karena selalu menganggapku normal dan tak mengasihiniku seperti yang
orang lain lakukan. Aku menceritakan ini kembali kepada kalian teman-teman agar
kalian tidak merasa hidup ini sulit dan sangat berat. Masa-masa sulit akan
terlewati ketika kita menjalaninya. Aku buktinya. Nadine Pricilia anak cacat
dengan kaki lumpuh yang berkuliah dan memiliki mimpi besar terhadap negeri ini
agar semakin maju lagi. Itu alasanku masuk ke jurusan ilmu politik dan juga
agar menjadi pejabat pemerintahan yang peduli akan rakyat. Untuk hal cinta,aku
juga memiliki laki-laki yang kusuka namun aku akan menyerahkan semuanya kepada
Tuhan. Aku tahu Tuhan memiliki rencana yang sangat indah dalam hidupku.
Semuanya akan indah pada waaktunya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar