Bahgia. Seseorang
pernah berkata padaku kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika hati kita
merasa aman dan tenang. Tidak ada yang ditakutkan ataupun ditunggu. Semuanya sudah
sempurna. Meskipun harta banyak dan semua kebutuhan jasmani terpenuhi dengan
adanya harta tersebut. Tidak ada gunanya. Ketika hati manusia tersebut tidak
dipenuhi dengan kebahagiaan dengan adanya harta yang ia miliki. Memang harta
juga penting. Namun di atas segalanya ketenangan dan kebahagiaan hatilah yang
paling penting diatas segalanya. Sepertinya Tuhan memang suka sekali menguji umatNya
yang tidak taat kepadaNya. Memang tidak kaya,tidak juga miskin. Berkecukupan. Thank you God. Tapi dia merasa bahwa ini
adalah perjalanan hidupnya yang begitu kelam. Kenapa dia berani berkata begitu
?. we have to ask him bout it. Dan jawabannya
yang dia berikan adalah seiring berjalannya waktu, hidupnya seakan menginginkan
dia menderita. Sejak dia lahir katanya, lahir dengan prematur dan mungkin saja
hampir mati karena beratnya tidak lebih dari 1,5 kg. Gila memang. Apa ada bayi
yang bisa hidup sekecil itu. Dengan berkat Tuhan. Tanpa tahu Tujuan Tuhan apa
dalam hidupnya. Ia diberikan Tuhan anugerah untuk menghirup udara di dunia ini.
Menangis sekencang-kencangnya. Dibantu dengan sinar lampu di datas tempat
tidurnya. (seperti inkubator) mengingat dia lahir sangat kecil. Tumbuh,besar
dan sekarang telah menjadi laki-laki menuju dewasa karena dia baru saja
menyelesaikan studinya sebagai murid sekolah
menengah atas dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Semakin ia
tumbuh semakin besar juga beban yang ia rasakan. Bukan! Bukan beban sebagai
mahasiswa atau tentang masa depannya. Namun beban setelah ia sampai di rumah
setelah beberapa bulan ia tak kembali ke rumah. Ia hanya ingin bertemu
keluarganya tidak lebih dan tidak kurang. Itu saja. Dengan berada di rumah, dia
pikir dia akan bisa menghilangkan segala kepenatan yang ia punya ketika tidak
bersama keluarganya. Namun,nyatanya tidak. Suara bising,teriakan,amarah,tidak
ada saling menghargai dan menghormati satu sama lain, baik antara orang tua dan
anak atau kakak beradik. Dia marah. Dia tidak tahu marah pada siapa ? yang
jelas semuanya kacau. Setiap orang di rumah itu membaw emosinya masing-masing. Ketika
dikantor,disekolah atau dimanapun mereka berada sedang mengalami stress karena
aktivitas mereka masing masing, mereka membawanya ke rumah. Mereka meluapkannya
di rumah. Memarahi semua orang. Seakan hati orang yang dia marahi terbuat dari
batu atau benda mati lainnya yang tidak memiliki perasaan atau sakit hati.
Diam. Marah.
Tanpa terasa dengan memikirkan dan menceritakan ini semua. Dia menangis. Tidak bersuara.
Hanya saja air mata itu keluar dari pelupuk mata. Satu persatu keluar dan semua
kenangan buruk di rumah itu terulang kembali di kepalanya. Biarkanlah hanya diamku ini yang
kuandalkan. Rasanya tak ada lagi yang bisa kuperbuat. Aku merasa kacau dan
hancur sekarang. Katanya mengakhiri
cerita ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar