Kamis, 14 Agustus 2014

Because happy is heart itself

Bahgia. Seseorang pernah berkata padaku kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika hati kita merasa aman dan tenang. Tidak ada yang ditakutkan ataupun ditunggu. Semuanya sudah sempurna. Meskipun harta banyak dan semua kebutuhan jasmani terpenuhi dengan adanya harta tersebut. Tidak ada gunanya. Ketika hati manusia tersebut tidak dipenuhi dengan kebahagiaan dengan adanya harta yang ia miliki. Memang harta juga penting. Namun di atas segalanya ketenangan dan kebahagiaan hatilah yang paling penting diatas segalanya. Sepertinya Tuhan memang suka sekali menguji umatNya yang tidak taat kepadaNya. Memang tidak kaya,tidak juga miskin. Berkecukupan. Thank you God. Tapi dia merasa bahwa ini adalah perjalanan hidupnya yang begitu kelam. Kenapa dia berani berkata begitu ?. we have to ask him bout it. Dan jawabannya yang dia berikan adalah seiring berjalannya waktu, hidupnya seakan menginginkan dia menderita. Sejak dia lahir katanya, lahir dengan prematur dan mungkin saja hampir mati karena beratnya tidak lebih dari 1,5 kg. Gila memang. Apa ada bayi yang bisa hidup sekecil itu. Dengan berkat Tuhan. Tanpa tahu Tujuan Tuhan apa dalam hidupnya. Ia diberikan Tuhan anugerah untuk menghirup udara di dunia ini. Menangis sekencang-kencangnya. Dibantu dengan sinar lampu di datas tempat tidurnya. (seperti inkubator) mengingat dia lahir sangat kecil. Tumbuh,besar dan sekarang telah menjadi laki-laki menuju dewasa karena dia baru saja menyelesaikan studinya sebagai murid sekolah  menengah atas dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi.
Semakin ia tumbuh semakin besar juga beban yang ia rasakan. Bukan! Bukan beban sebagai mahasiswa atau tentang masa depannya. Namun beban setelah ia sampai di rumah setelah beberapa bulan ia tak kembali ke rumah. Ia hanya ingin bertemu keluarganya tidak lebih dan tidak kurang. Itu saja. Dengan berada di rumah, dia pikir dia akan bisa menghilangkan segala kepenatan yang ia punya ketika tidak bersama keluarganya. Namun,nyatanya tidak. Suara bising,teriakan,amarah,tidak ada saling menghargai dan menghormati satu sama lain, baik antara orang tua dan anak atau kakak beradik. Dia marah. Dia tidak tahu marah pada siapa ? yang jelas semuanya kacau. Setiap orang di rumah itu membaw emosinya masing-masing. Ketika dikantor,disekolah atau dimanapun mereka berada sedang mengalami stress karena aktivitas mereka masing masing, mereka membawanya ke rumah. Mereka meluapkannya di rumah. Memarahi semua orang. Seakan hati orang yang dia marahi terbuat dari batu atau benda mati lainnya yang tidak memiliki perasaan atau sakit hati.
Diam. Marah. Tanpa terasa dengan memikirkan dan menceritakan ini semua. Dia menangis. Tidak bersuara. Hanya saja air mata itu keluar dari pelupuk mata. Satu persatu keluar dan semua kenangan buruk di rumah itu terulang kembali di kepalanya.  Biarkanlah hanya diamku ini yang kuandalkan. Rasanya tak ada lagi yang bisa kuperbuat. Aku merasa kacau dan hancur sekarang.  Katanya mengakhiri cerita ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar